Sunday, 31 January 2016

jurumiyah bag 9 (i'rob yang masuk di fiil dan kesimpulan pembagian i'rob)

Assalamualaikum,

Pada bahasan sebelumnya kita telah bahas i'rob (اعراب) mana saja yang masuk atau bisa ditemukan di isim (اسم). Bahasan kali ini kita akan bahas i'rob (اعراب) apa saja yang masuk di fiil (فعل). Dalam kitab jurumiyah ditulis :

و للأفعل من ذلك الرفع والنصب والجزم ولا خفض فيها

Seperti biasa akan kita coba perinci.

و للأفعل (walil af'aali)
Artinya = dan tetap kepada fiil

 من ذلك (min dzaalika)
Artinya = dari beberapa i'rob tersebut

الرفع (arrof'u)
Artinya = yaitu i'rob rofa

والنصب (wannasbu)
Artinya = juga i'rob nashob

والجزم (waljazmu)
Artinya = juga i'rob jazm

ولا خفض (walaa khofdho)
Artinya = dan tidak ada i'rob khofad

فيها (fiiha)
Artinya = didalam fiil

I'rob (اعراب) yang bisa ditemukan di fiil (فعل) ada 3, yaitu rofa (رفع), nashob (نصب), dan jazm (جزم). Dan i'rob khofad (خفض) tidak akan ada di fiil (فعل).Artinya fiil (فعل) bisa ditempeli amil (عامل) yang memerintah atau menyebabkan fiil (فعل) berkedudukan rofa (رفع), bisa juga amil (عامل) yang memerintah nashob (نصب), bisa juga yang memerintah jazm (جزم), tapi tak akan ada amil (عامل) yang menyebabkan khofad (خفض) menempel atau ada di fiil (فعل), karena fiil (فعل) tak akan pernah berkedudukan khofad (خفض).
Contoh fiil (فعل) yang berkedudukan rofa (رفع) adalah lafadz a'uudzu (أَعُوذُ) dalam taawwudz. Lafadz a'uudzu (أَعُوذُ) berkedudukan rofa, karena lafadz a'uudzu (أَعُوذُ) adalah fiil mudoori' (مُضَارِع), dan saat fiil mudoori (مُضَارِع) tak dimasuki amil apapun, maka itu tandanya fiil mudoori (مُضَارِع) tersebut berkedudukan rofa (رفع). Contoh fiil (فعل) yang berkedudukan nashob (نصب) adalah lafadz lan yaqdiro (لَن يقدِرَ) dalam surah al-balad. Lafadz yaqdiro (يَقدِرَ) berkedudukan nashob, karena adanya amil (عامل) yang memerintah nasob yaitu lan (لَن) . Contoh fiil (فعل) yang berkedudukan jazm (جزم) adalah lafadz lam yalid (لَم يَلِد) dalam al-ikhlas. Lafadz yalid (يَلِد) berkedudukan jazm, karena adanya amil (عامل) yang memerintah jazm yaitu lam (لَم).
Dan telah dijelaskan sebelumnya bahwa tak ada i'rob (اعراب) yang masuk pada haraf (حرف). Bagi yang belum tau silahkan baca postingan saya yang lain.

Dari bahasan ini dan bahasan sebelumnya, bisa kita simpulkan bahwa i'rob (اعراب) terbagi 2, yaitu :

  1. I'rob (اعراب) yang bisa masuk pada isim (اسم) dan juga fiil (فعل), atau disebut juga i'rob musytarok (مشترك). I'rob musytarok (مشترك) yaitu rofa (رفع) dan nashob (نصب).
  2. I'rob (اعراب) yang khusus atau hanya ada disalah satu saja, dan tidak ditemukan di yang lainnya atau disebut juga i'rob mukhtas (مختص). I'rob mukhtas (مختص) dibagi menjadi 2, yaitu : 


  • Mukhtasun lil'asmaa'i (مختص للأسماء) atau i'rob yang hanya ada di isim, yaitu i'rob khofad (خفض).
  • Mukhtasun lil'af'aali (مختص للأفعال) atau i'rob yang hanya ada di fiil (فعل), yaitu i'rob jazm (جزم).


Jangan lupa like fp kami di www.facebook.com/bisaxa juga follow twitter di @bisaxa. bantu bagikan juga link kami www.bisaxa.blogspot.com di fb, twitter atau social media lainnya agar bisa jadi pahala bagi kita semua. semoga kita semua senantiasa ada dalam lindungan Alloh s.w.t. آمِيـنَ...

Mungkin cukup untuk hari ini, mohon maaf jika ada kesalahan. Semoga bermanfaat.

Wassalamualaikum.

Saturday, 30 January 2016

jurumiyah bag 8 (i'rob yang bisa ditemukan atau terdapat di isim)

Assalamualaikum.

Setelah kita bahas pembagian atau banyaknya i'rob (اِعرَاب), sekarang kita bahasa ditempatkannya i'rob (اِعرَاب) pada kalam. Tapi tak semua kalam terdapat i'rob (اِعرَاب). I'rob hanya ditempatkan di dua kalam saja, yaitu isim (اِسِم) dan fiil (فِعِل). Sedangkan haraf (حَرَف) tak mempunyai i'rob (اِعرَاب). Kalam yang mempunyai i'rob yaitu isim (اِسِم) dan fiil (فِعِل) disebut mu'rob (مُعرَاب) sedangkan yang tidak mempunyai i'rob yaitu haraf disebut mabni (مَبنِي). Dan sekarang kita bahas kalam mu'rob (مُعرَاب). Di jurumiyah ditulis :

فللأسماء من ذلك الرفع والنصب والخفض ولا جزم فيها


فللأسماء (falil asmaa'i)
Artinya = maka tetap kepada isim

من ذلك (مِن dzaalika)
Artinya = dari beberapa i'rob diatas

الرفع (arrof'u)
Artinya = yaitu rofa'

والنصب (wannasbu)
Artinya = juga nasab

والخفض (wal khofdu)
Artinya = juga khofad

ولا جزم (walaa jazma)
Artinya = dan tidak ada i'rob jazm

فيها (fiiha)
Artinya = didalam isim.

Ada 3 i'rob (اِعرَاب) yang bisa kita temukan di isim (اِسِم) , yaitu rofa ( رَفَع ), nasab (نَصَب) dan khofad (خَفَض), isim (اِسِم) tidak pernah jazm (جَزم). Dengan kata lain isim (اِسِم) bisa berkedudukan rofa ( رَفَع ), bisa juga nasab (نَصَب), bisa juga khofad (خَفَض), tetapi isim tidak akan pernah berkedudukan jazm (جَزم). Kedudukan isim (اِسِم) ditentukan dengan adanya amil (عَامِل) yang masuk pada isim (اِسِم). Saat ada amil (عَامِل) yang mengharuskan isim rofa, maka isim akan rofa, begitu pula jika amil (عَامِل) yang mengaruskan isim nasab dan khofad. Tetapi tak akan ada amil (عَامِل) yang memerintah jazm di isim, karena isim tak akan berkedudukan jazm. Contoh amil (عَامِل) yang memerintah isim rofa adalah lafadz alhamdu (اَلحَمدُ) dalam surah alfaatihah. Alhamdu (اَلحَمدُ) adalah isim (اِسِم), ciri-cirinya sudah kita bahas di postingan yang sebelumnya. Alhamdu berkedudukan rofa' karena alhamdu adalah mubtada (مُبتَدَاء), dan mubtada (مُبتَدَاء) harus berkedudukan rofa. Penjelasan mubtada akan kita bahas
اِ نْ شَآ ءَ اللّهُ di yang akan datang. Isim yang nasab contohnya lafadz innallooha (اِنَّاللَّهَ) , lafadz Alloha (اللَّهَ) berkedudukan nasab, karena menjadi jadi isim dari lafadz inna (اِنَّ). Penjelasannya juga akan kita bahas nanti. Terakhir isim yg khofad contohnya lafadz fii suduuri (فِي سُدُور) dalam surah annaas. Suduuri (سُدُورٍ) adalah isim yang khofad, karena sebelumnya ada lafadz fii (فِي). Penjelasannya sudah ada di postingan sebelumnya.

mohon maaf jika ada kesalahan. Semoga bermanfaat.

Wassalamualaikum

Friday, 29 January 2016

jurumiyah bag 7 (bagian-bagian dan banyaknya i'rob)

Assalamualaikum.

Setelah sebelumnya kita membahas pengerian i'rob, bahasan kali ini kita akan bahas bagian dari i'rob. Didalam jurumiyah dikatakan :

وأقسامه أربعة : رفع ونصب وخفض وجزم

Sekarang kita perinci

وأقسامه (wa aqsaamuhu)
Artinya = dan bagian-bagian i'rob itu

أربعة (arba'atun)
Artinya = ada 4 bagian

رفع (rof'un)
Artinya = pertama adalah i'rob rofa

ونصب (wa nasbun)
Artinya = dan selanjutnya i'rob nashob

وخفض (wa hofdun)
Artinya = dan selanjutnya i'rob khofad

وجزم (wa jazmun)
Artinya = dan selanjutnya i'rob jazm.

I'rob atau kedudukan suatu lafadz yg disebabkan karena adanya amil (عَامِل) ada 4, yaitu rofa (رفع), nashob (نصب), khofad (خفض), dan jazm (جزم). Dari semua i'rob itu ada yg masuk atau ditemukan di isim (اِسِم), dan ada pula yg ada di fiil (فِعِل). I'rob mana saja yang ada di isim (اِسِم) dan mana yang ada di fiil (فِعِل) akan kita bahas selanjutnya.

Mohon maaf jika ada kesalahan. Semoga bermanfaat.

Wassalamualaikum.

Thursday, 28 January 2016

jurumiyah bag 6 (apa itu i'rob pengertian i'rob contoh i'rob)

Assalamualaikum.

Alhamdulillah saya masih bisa posting lagi hari ini. Bahasan kali ini kita akan mulai pembahasan baru, yaitu i'rob (إِعرَاب). Apa itu i'rob (إِعرَاب)? Di tulis dalam kita jurumiyah :

باب الإعراب

الإعراب هو تغيير أواخر الكلم لاختلاف العوامل الداخلة عليها لفظاً أو تقديراً

Sekarang kita bahas satu persatu

باب الإعراب (baabul i'robi)
Artinya = ini adalah bab yang menjelaskan tentang i'rob.

الإعراب (al i'roobu)
Artinya = yang dinamakan i'rob

هو (huwa)
Artinya = adalah

تغيير أواخر الكلم (tagyiiru awaakhiril kalimi)
Artinya = berubahnya akhir-akhir kalam (kalimahh)

 لاختلاف العوامل (likhtilaafil awaamili)
Artinya = karena beda-bedanya amil-amil

الداخلة عليها (addaakhilati alaiha)
Artinya = yang masuk ke dalam kalimah tersebut

لفظاً (lafdon)
Artinya = entah itu berubah secara lafdi (لَفظِي) (terlihat oleh mata)

 أو تقديراً (au taqdiiron)
Artinya = ataupun berubah secara taqdir (تقدير) (tidak terlihat oleh mata).

Seperti yang ditulis diatas, i'rob (إِعرَاب) adalah perubahan setiap akhir kalimah karena adanya amil (عَامِل) yg masuk. Yang dimaksud amil (عَامِل) adalah lafadz yang bisa merubah kedudukan i'rob (إِعرَاب) lafadz lain. Contoh haraf khofad (حُرُوفِ الخَفضِ). Kita ambil lafadz min (مِن). Saat ada lafadz yang ditempeli lafadz min (مِن), maka lafadz tersebut harus berkedudukan i'rob khofad. Contoh lafad al masjidu (المَسجِدُ). Saat lafadz min (مِن) ditempelkan pada lafadz al masjidu (المَسجِدُ), cara bacanya jadi minal masjidi (مِنَ المَسجِدِ). Lafadz al masjidi ( المَسجِدِ ) harus berkedudukan khofad, karena min (مِن) adalah lafadz yg menjadikan khofad. Lafadz yg merubah kedudukan i'rob seperti min (مِن) disebut amil (عَامِل), dan lafadz yang berubah kedudukan karena adanya amil (عَامِل) seperti lafadz al masjidi (المَسجِدِ) disebut ma'mul (مَعمُول).
Dan lihat lah perubahan akhir lafadz dari dommah (دُ) menjadi kasrah (دِ), itulah yg dimaksud i'rob (إِعرَاب). Contoh lain pada lafadz bismillah (بِسْمِ اللّهِ). Para ulama atau guru selalu membacanya bismi (بِسْمِ), tidak bisma (بِسمَ) atau bismu (بِسمُ). Karena kita juga telah tau bahwa ba' (ب) adalah amil (عَامِل) yg menjadikan lafadz khofad, jadi lafadz ismi (اسمِ) menjadi ma'mul (مَعمُول) yg dibaca khofad. Perubahan-perubahan pada akhir lafadz tersebut adalah contoh lafdi (لَفظِي) karena perubahannya terlihat jelas dengan mata.
Perubahan taqdir seperti lafadz ja'al fataa (جَاءَ الفَتَي) roaitul fataa (رَأَيتُ الفَتَي) marortu bil fataa (مَرَرتُ بِالفَتَي). Jaa (جَاءَ) adalah amil rof'i, roaitu (رَأَيتُ) adalah amil nasbi dan ba (بِ) adalah amil khofdi. Ditempeli amil (عَامِل) apapun cara baca fataa (الفَتَي) tetap tidak berubah, tapi bukan berarti fataa (الفَتَي) tidak berurah, fataa (الفَتَي) tetap berubah saat dimasuki amil (عَامِل), hanya saja perubahannya perubahan takdir (تقدير) atau tidak terlihat.

untuk bahasan macam-macam kedudukan i'rob akan kita bahas di depan. Maaf jika ada kesalahan. Semoga bermanfaat.

Wassalamualaikum.

Wednesday, 27 January 2016

jurumiyah bag 5 (mengenal, membedakan dan mengetahui ciri haraf)

Assalamualaikum.

Bahasan sebelumnya kita telah bahas tentang ciri-ciri isim (اِسِم) dan juga ciri-ciri fiil (فعل). Dan bahasan kali ini kita akan bahas ciri-ciri bagian kalam yang terakhir, yaitu haraf (حَرَف). Di dalam kitab jurumiyah ditulis :

والحرف مالا يصلح معه دليل الاسم ولا دليل الفعل .

Seperti biasa akan kita coba perinci.

والحرف (wal harfu)
Artinya = dan kalam haraf

ما (maa)
Artinya = adalah perkara atau lafadz

لا يصلح (laa yashluhu)
Artinya = yang tidak pantas atau tidak cocok

معه (ma'ahu)
Artinya = beserta kalam haraf

دليل الاسم (daliilul ismi)
Artinya = alamah atau ciri isim

ولا دليل الفعل (walaa daliilul fi'li)
Artinya = dan juga tidak dengan ciri fi'il.

Maksudnya adalah, setelah kita tau beberapa ciri lafadz isim (اِسِم), dan tau apa saja ciri lafadz fi'il (فعل), maka ciri dari lafadz haraf (حَرَف) adalah lafadz yang tidak akan pernah bisa ditempeli ciri isim (اِسِم) maupun fi'il (فعل). Saat ada lafadz yang tidak cocok dimasuki ciri isim (اِسِم) maupun ciri fi'il (فعل), maka itu adalah haraf (حَرَف). Tidak menerima ciri itulah yang menjadi ciri haraf (حَرَف). Kita berikan perumpamaan seperti jim (ج), ha (ح), da kho (خ). Ciri jim (ج) adalah adanya titik dibawah, ciri kho (خ) adalah adanya titik diatas, dan ciri ha (ح) adalah tidak adanya titik. Seperti itulah perumpamaan antara isim (اِسِم), fiil (فعل), dan haraf (حَرَف). Jadi haraf (حَرَف) adalah lafadz-lafadz yang tidak menerima atau tidak adanya ciri isim (اِسِم) juga ciri fiil (فعل).

Contoh haraf (حَرَف) adalah lafadz fii (فِي). Kita tidak pernah melihat fii (فِي) memakai ciri-ciri isim (اِسِم). Entah itu tanwin (ً ٍ ٌ jadi فٍي) alif lam (ال jadi اَلفِي) atau yang lainnya. Juga tidak pernah haraf (حَرَف) memakai ciri fiil (فعل), entah itu qod (قَد jadi قَد فِي), sin (سَ jadi سَفِي) ataupun yang lainnya. Tidak adanya atau tidak cocoknya ciri isim (اِسِم) dan ciri fiil (فعل) dalam haraf (حَرَف) itulah yang menjadi ciri haraf (حَرَف). Bahkan haraf (حَرَف) sendiri yang terkadang menjadi ciri. Contoh fii (فِي) adalah salah satu dari haraf khofad (حُرُوفِ الخَفضِ), dan telah kita ketahui bahwa huruf kofad (حُرُوفِ الخَفضِ) adalah ciri isim (اِسِم). Jadi haraf (حَرَف) tidak bisa menerima ciri isim (اِسِم) dan fiil (فعل), tetapi haraf (حَرَف) bisa menjadi ciri. Sebagian jadi ciri kalam isim (اِسِم) dan sebagian jadi ciri fiil (فعل).

Alhamdulillah bahasan pembagian dan ciri-ciri kalam telah seselai, dan kita akan teruskan bahasan selanjutnya di bahasan yang akan datang.
Mohon maaf jika ada kesalahan, semoga bermanfaat.

Wassalamualaikum.

tashrifan bag 1 (pengertian shorof dan pembagian shorof)

Assalamualaikum.

Selain belajar ilmu nahwu (نَحوُ), ilmu yang harus dipelajari jika ingin mengusai bahasa arab adalah ilmu shorof (صَرَف). Sebelum kita belajar ilmu shorof (صَرَف) kita harus pengertian dan kegunaan ilmu shorof (صَرَف) dalam bahasa arab.
Dalam kitab al kailaani (اَلكَيلَانِ) dikatakan bahwa shorof (صَرَف) menurut bahasa artinya berubah. Perubahan bentuk, sikap, warna, atau apapun adalah shorof (صَرَف) menurut bahasa. Tapi shorof (صَرَف) menurut para ulama ahli shorof adalah berubahnya satu bentuk lafadz asal menjadi lafadz yg lain, agar hasil makna yang diinginkan. Sebab makna yang diinginkan takkan bisa didapat tanpa merubah lafadz asal. Contoh dalam bahasa indonesia adalah perubahan lafadz pukul - memukul - dipukul. kata utama atau kata dasarnya adalah pukul (kata kerja), tapi saat kita menginginkan kata yang mempunyai makna orang yang melakukan pekerjaan, maka kita menambahkan kata me- di depan kata pukul. Maka hasillah makna yang kita maksud. Begitu pula dengan bahasa arab, perubahan dari lafadz asal ke lafadz lain dalam bahasa arab itulah yg disebut dengan shorof (صَرَف). Contoh perubahan lafadz dhoroba (ضَرَبَ) - yadhribu (يَضرِبُ) - madhruubun (مَضرُوبٌ).

Untuk mempelajari ilmu shorof (صَرَف) kita akan belajar ilmu tashrif atau dikalangan santri di sebut tashriifan (تَصرِيفَان).

Shorof (صَرَف) ada dua bagian :

1. Tsulatsi (ثُلَاثِي)
Tsulasi (ثُلَاثِي) adalah lafadz-lafadz pada bahasa arab yang pada lafadz utamanya (lafadz asal) berasal dari 3 haraf. Jadi bisa dikatakan bahwa tsulasi (ثُلَاثِي) berarti lafadz-lafadz yg lafadz asalnya 3 haraf.

2. Ruba'i (رُبَاعِي)
jika tsulasi (ثُلَاثِي) mempunyai lafadz asal dengan 3 haraf, maka ruba'i (رُبَاعِي) mempunyai lafadz asal dengan 4 haraf.

Kemudian tsulatsi (ثُلَاثِي) dan juga ruba'i (رُبَاعِي) terbagi menjadi dua, yaitu :

A. Mujarrod (مُجَرَّد)
Mujarrod (مُجَرَّد) berarti yang tidak ada penambah. Artinya, jika tsulasti mujarrod (ثُلَاثِي مُجَرَّد) berarti lafadz 3 haraf yg tidak ada penambah. Atau bisa disimpulkan bahwa tsulati mujarrod (ثُلَاثِي مُجَرَّد) adalah lafadz-lafadz yang yang berawal dari lafadz yang punya 3 haraf asal. Begitu pula ruba'i mujarood (رُبَاعِي مُجَرَّد) adalah lafadz-lafadz yang berasal dari lafadz yang mempunyai 4 haraf asal.

B. Maziid (مَزِيد)
Maziid (مَزِيد) kebalikan daripada mujarrod (مُجَرَّد), jadi maziid (مَزِيد) adalah yang ada penambah. Jika tsulati (ثُلَاثِي) berarti 3 haraf asal dan maziid (مَزِيد) adalah yang mengandung penambah, maka bisa dipastikan bahwa tsulatsi maziid (ثُلَاثِي مَزِيد) adalah lafadz-lafadz yang berasal dari lafadz yang punya haraf asal lebih dari 3. Begitupula dengan ruba'i (رُبَاعِي). Bisa dipastikan. Bahwa ruba'i maziid (رُبَاعِي مَزِيد) adalah lafadz-lafadz yang berasal dari lafadz asal yang punya haraf lebih dari 4.

Dan setiap dari mujarrod (مُجَرَّد ) dan maziid (مَزِيد) terbagi jadi dua, yaitu :

+ saalim (سَالِم)
Saalim berarti yg selamat. Selamat disini artinya haraf dari lafadz asalnya tidak menggunakan haraf illat (حُرُوفِ العِلَّةِ) yaitu wau, alif, iya (و,ا,ي), juga tidak menggunakan hamzah (أ), dan tidak mudo'af (مُضَعَّف) (haraf ke 2 dan ke 3 sama pada tsulasi (ثُلَاثِي) contoh madada (مَدَدَ) sedangkan pada ruba'i (رُبَاعِي) haraf ke 1 sama dengan haraf ke 3, dan haraf ke 2 sama dengan haraf ke 4, contoh zalzala (زَلزَلَ)).

+ ghoir saalim (غَير سَالِم)
Artinya yang tidak selamat. Entah itu karena haraf dari lafadz asal nya menggunakan haraf illat (حُرُوفِ العِلَّةِ), atau menggunakan hamzah (أ), ataupun karena mudo'af (مُضَعَّف).

Jdi pembagian tashriif ada 8, yaitu :

1. Tsulatsi mujarrod saalim (ثُلَاثِي مُجَرَّد سَالِم)
2. Tsulatsi mujarrod ghoir saalim (ثُلَاثِي مُجَرَّد غَير سَالِم)
3. Tsulatsi maziid saalim (ثُلَاثِي مَزِيد سَالِم)
4. Tsulatsi maziid ghoir saalim (ثُلَاثِي مَزِيد غَير سَالِم)
5. Ruba'i mujarrod saalim (رُبَاعِي مُجَرَّد سَالِم)
6. Ruba'i mujarrod ghoir saalim (رُبَاعِي مُجَرَّد غَير سَالِم)
7. Ruba'i maziid saalim (رُبَاعِي مَزِيد سَالِم)
8. Ruba'i maziid ghoir saalim (رُبَاعِي مَزِيد غَير سَالِم)

Sampai disini dulu pembahasan kali ini, maaf jika ada kesalahan. Semoga bermanfaat.

Wassalamu alaikum.

Tuesday, 26 January 2016

jurumiyahh bag 4 (mengenal dan mengetahui ciri-ciri kalam fi'il)

Assalamualaikum.

Setelah pada postingan sebelumnya kita belajar tentang ciri-ciri daripada isim (اِسِم), pada postingan kali ini kita akan coba perinci ciri-ciri fi'il (فعل). Langsung saja kita teruskan dengan membuka kitab jurumiyah.
Dalam kitab jurumiyah di tulis :

والفعل يعرف بقد والسين و سوف وتاء التأنيث الساكنة

Sekarang kita coba perinci.

والفعل (wal fi'lu)
Artinya = dan kalam fi'il

يعرف (yu'rofu)
Artinya = bisa diketaui

بقد (bi qod)
Artinya = dengan adanya lafadz qod
Ciri fi'il (فعل) yg pertama adalah qod (قد). Jadi jika ada lafadz yg di tempeli lafadz qod (قد) atau lafadz yg ada setelah lafadz qod (قد), maka bisa dipastikan itu adalah lafadz fi'il (فعل). Contoh lafadz qod qoola (قَد قَالَ). Lafadz qoola (قَالَ) adalah lafadz fi'il (فعل), cirinya adalah adanya lafadz qod (قد) sebelum lafadz qoola (قَالَ).

والسين (wassiini)
Artinya = selanjutnya haraf sin
Ciri fi'il (فعل) selanjutnya adalah sin (س). Jadi saat haraf sin (س) menempel pada satu lafadz, maka dipastikan bahwa lafadz yang ditempeli haraf sin (س) adalah lafadz fi'il (فعل). Contoh lafadz sayashlaa (سَيَصلَي) dalam surah al-lahab. Yashlaa (يَصلَي) adalah lafadz fi'il (فعل), cirinya adalah adanya haraf sin (س) diawal lafadz yashla (يَصلَي).

و سوف (wa saufa)
Artinya = selanjutnya lafadz saufa
Selanjutnya adalah lafadz saufa (سَوفَ). Contoh lafadz saufa ta'lamuun (سَوفَ تَعلَمُونَ) dalam surah at-takasur. Ta'lamuun (تَعلَمُونَ) adalah lafadz fi'il (فعل), cirinya adalah adanya lafadz saufa (سَوفَ) sebelum lafadz ta'lamuun (تَعلَمُونَ).

وتاء التأنيث الساكنة (wa taa'itta'niisi assaakinati)
Artinya = selanjutnya adalah ta' ta'nis yang sukun (mati)
Ciri fi'il (فعل) terakhir adalah ta' ta'nis sukun (تْ). Ta ta'nis sukun (تْ) adalah haraf penambah yg ada pada fi'il (فعل) untuk membedakan antara perempuan dan laki-laki. Contoh jika untuk laki-laki adalah qooma (قَامَ), maka untuk perempuan ditambahkan ta' ta'nis sukun (تْ), jadi qoomath (قَامَتْ). Dan dengan ditambahkannya ta' ta'nis sukun (تْ) diakhir lafadz, itu juga menjadi ciri bahwa lafadz tersebut adalah lafadz fi'il (فعل).

Untuk penjelasan ciri-ciri kalam haraf (حَرَف) akan kita bahas di postingan berikutnya. Dan mohon maaf sebelumnya jika tulisan arabnya ada yang kurang pas, karena saya nulisnya cuma pake hp. He
Semoga bermanfaat.

Wassalamu alaikum.